Inilah Curhatan Algojo Sang Eksekutor Terpidana Mati Duo Bali Nine | Wanitakota

Inilah Curhatan Algojo Sang Eksekutor Terpidana Mati Duo Bali Nine

Inilah Curhatan Algojo Sang Eksekutor Terpidana Mati Duo Bali Nine

Inilah Curhatan Algojo Sang Eksekutor Terpidana Mati Duo Bali Nine 12 orang pasukan penembak sudah melaksanakan tugas mereka. Delapan orang terpidana narkoba akhirnya tewas setelah peluru menembus jantung mereka. Banyak orang membicarakan soal Mary Jane, Bali Nine atau Zainal Abidin. Namun apakah kamu tahu para algojo pelaksana hukuman mati yang tak dikenal tapi punya tanggung jawab berat itu?

Mengakhiri nyawa seorang manusia rupanya menjadi sebuah hal yang sangat sulit dilakukan oleh para eksekutor mati. Salah seorang anggota Brimob yang pernah menjadi algojo penembak mati bersedia berbicara kepada The Guardian. Saat hukuman itu terjadi, dia bersama 11 orang lainnya akan berdiri sekitar 5-10 meter dan menembakkan senapan M16S saat diperintah dalam lingkungan yang gelap dan hanya bercahayakan obor.

“Beban mental yang lebih berat adalah para petugas yang harus mengikat terpidana di tiang dengan tali daripada para algojo penembak. Ini akan jadi rahasia seumur hidup. Sebagai anggota Brimob kami harus melakukannya karena tak punya pilihan. Tapi sebagai manusia, saya tak akan pernah melupakan kejadian ini seumur hidup,” kisah sang eksekutor mati.

bali nine

Duo Bali Nine, dua dari 8 terpidana yang sudah ditembak mati The Guardian

Menurut ceritanya, dalam setiap pelaksanaan hukuman mati, ada dua tim yang ditugaskan. Tim pertama yang membawa terpidana ke tiang hukuman dan mengikatnya serta tim kedua yang merupakan regu penembak. Dan ternyata anggota Brimob ini sudah pernah ada dalam kedua tim tersebut. Saat membawa terpidana menuju tiang, mereka membebaskan apakah terpidana mau menutup wajah sebelum diikat atau tidak. Terpidana juga boleh memilih mau diikat dalam keadaan berdiri atau berlutut.

“Kami melihat para terpidana dari dekat. Saat mereka masih hidup, berbicara hingga mereka mati. Kami semua tahu persis kejadian itu. Saya tak berbicara dengan terpidana. Tapi saya memperlakukan mereka seperti keluarga sendiri. Saya hanya bisa bilang maaf karena hanya orang yang menjalankan tugas. Proses tembak mati selesai kurang dari lima menit. Setelah ditembak, para terpidana bakal lemas karena tak bernyawa lalu dokter datang memeriksa untuk memutuskan apakah korban sudah tewas atau belum,” jelasnya panjang lebar.

Dengan bayaran kurang dari Rp 1,3 juta untuk menjalankan tugas tersebut, para petugas penembak mati rupanya menjalani bimbingan spiritual dan psikologi selama tiga hari. “Saya terikat sumpah prajurit. Terpidana sudah melanggar hukum dan kami hanya algojo. Soal apakah ini berdosa atau tidak, kami serahkan ke Tuhan. Saya tak ingin terus-terusan jadi algojo, saya tak suka melakukannya. Saya harap para terpidana beristiraha dengan tenang, begitu juga dengan saya.”

(kapanlagi)

BACA JUGA

Ini Tanggapan Para Wanita bila Melukis Alat Kelamin Pria
Hubungan Memanas, KBRI di Australia Diperketat
Warganya Dieksekusi Mati, Tony Abbott Tarik Duta Besar Australia di Indonesia
Batal Sambangi Australia, SBY Tuai Pujian Netizen
Diancam Australia, Indonesia Tidak Perlu Gentar

You May Also Like

About Author